Jumat, 25 Mei 2012

Pulang



Peluit panjang itu memecah keheningan fajar

Membangunkanku dari mimpi panjang akhir pekan

Deretan gerbong pun mulai bergerak perlahan

Mengantarkan pada suatu kenyataan nun jauh disana

Waktu menunjukkan pada 285 derajat


Langit pun menjawab dengan garis kemerahan di balik bukit

Deretan rumah pun mulai berganti dengan siluet jajaran pegunungan

Dan aku pun masih termenung di dalam gerbong dengan bangku hijau ini

Memang bukan disinilah tempatku menulis cerita (lagi)


Disanalah,

Ditempat kelahiranku yang penuh hingar bingar akan kugoreskan tinta

Tentang sebuah realita yang akan terekam pada suatu peradaban


Aku akan merindukan mimpi ini,

Aku akan mengingat sentuhan hangat ini,

Sentuhan dari tangan ajaib kalian,

Terlebih dari gadisku..


Adios..

Jikalau ada sumur di ladang,

Maka semoga masih akan ada umur yang panjang..

Yang akan merapatkan kita dalam kabut yang tebal ini..


Published with Blogger-droid v2.0.4

Minggu, 20 Mei 2012

Aku dan Pohon Jati Tua

Mataku memandang keluar menembus jendela dan malam. Hutan jati, gubuk, kilau garis putih, bayangan diriku dan cahaya di ujung tikungan berganti dalam pandangan. Semua bayangan itu datang dan pergi membangkitkan irama yang entah dari mana datangnya. Lagu Angel dari Sarah Mclahen mengalun dengan sendirinya. Seiring lantunan piano, semakin mengantarkan mata untuk memejam.


Kegelapan dan ketenangan malam yang membius ini dibuyarkan oleh bayangan pohon-pohon jati yang muncul satu per satu.


Salah satu dari mereka bercerita tentang suatu musim dimana mereka meranggaskan daun-daun dan waktu ketika meneduhi "teman-teman" disekitarnya. Menceritakan gubuk yang dihuni janda tua yang mengumpulkan daunnya setiap pagi. Burung-burung yang membuat sarang pada lengan-lengannya dan membayarnya dengan kotoran mereka serta memakan ulat-ulat yang menempel menggerogoti daunnya.

Ia juga bercerita tentang "masa mudanya" yang gilang-gemilang menjadi rumah bagi ribuan makhluk yang dinaunginya. Apa yang lebih baik dari memberi terhadap sesama.


Kini...

Ia mulai bingung kapan waktu yang tepat untuk meranggas ataupun bersemi. Hujan badai turun dimusim kemarau dan matahari yang sangat terik membakarnya dimusim hujan. Alam telah tidak dapat diduga, begitu juga manusia. Batuan yang dahulu berjajar rapi didekatnya berganti dengan batu panjang berwarna hitam dengan garis putih semenjak 20 tahun terakhir. Musang dan babi hutan yang dahulu berkejaran telah berganti dengan kotak berisi manusia yang membuang sampah tak henti-henti dan malah semakin ramai. Suara-suara mereka menakuti dan mengusir isi hutan dan burung-burung yang dahulu ada dalam naungannya. Janda tua yang dulu mengumpulkan daunnya juga telah meracuni tanahnya dengan sampah plastiknya. Karbodioksida yang dahulu hanya dihisapnya pada siang hari kini terlahap juga pada malam hari.


Mataku terbuka begitu saja dikejutkan oleh pekak klakson panjang. Hutan itu telah lenyap dari pandangan, berganti dengan pemukiman dan tiang-tiang yang sangat kukenali. Dunia tempat aku lahir, tinggal, tumbuh dan hidup.


Bayangan diriku kembali terlihat pada kaca jendela. Inilah aku, yang lebih mengenali "alam"ku. Alam yang berisi dengan rumah-rumah, bangunan-bangunan tinggi, jalanan aspal halus yang lebih kusukai, tiang-tiang, kendaraan berbagai jenis yang dingin dan cepat, poliethilene dan perkembangan teknologi berserta fungsi dan kehebatannya. Puncak peradaban manusia.


Hening..

Tak ada lantunan lagu..

Hening..

Tak terdengar deru bus yang berjalan..

Hanya hening..

Dengan pandangan menembus malam....

Masih hening..

Yang membatasiku dengan bayangan pohon jati tua itu..


Sidoarjo, 2012


Published with Blogger-droid v2.0.4

Rabu, 14 Maret 2012

Toure de Pani

Lumajang,14 Maret 2012

Ranu Pani, sebuah desa terakhir di kakai langit yang berada di pintu gunung semeru yang cantik. Perjalanan kali ini saya lalui dengan seorang teman.

Kami berangkat dari Malang pukul 09.00 WIB melewati jalur Tumpang. Dengan berbekal semangat mengendarai kendaraan roda dua. Jalan yang ditempuh juga tidak seberapa jauh, antara lain Blimbing-Pakis-Tumpang-Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Sepanjang perjalanan saya melewati beberapa wisata alam antara lain, Coban Pelangi dan Coban Trisulo. Jalanan yang dilewati cukup baik, hanya jalanan beraspal dan jalanan semen yang dihiasi jurang di kanan kiri sisi jalan, bukit-bukit dengan pohonnya yang menjulang menantang langit, penduduk yang membawa kayu bakar dan anak sungai yang berlenggak-lenggok bagaikan ular raksasa di bawah sana.

Sesampainya di pertigaan Tumpang-Bromo-Pani kami beristirahat untuk menikmati kopi panas dan rokok sambil membeli lombok yang berukuran sebesar tomat memanjang untuk oleh-oleh. Sungguh baru kali ini aku melihat lombok yang berukuran sebesar ini dan lebih pedas dari sepuluh cabe rawit yang terkenal pedasnya itu. Sepertinya lombok ini dapat menjadi alternatif ditengah harga lombok yang kembali meroket naik mengikuti harga BBM.



Perjalanan pun kembali dilanjutkan saat gerimis mulai datang. Hujan yang menerpa dan angin yang berhembus kencang tak menyurutkan langkah ini. Sisa hujan sepagi masih menyisakan pohon tumbang yang menarik kabel listrik. Meski sempat terkejut oleh setrum yang mengaliri tubuh saat melaluinya namun semangat ini tak pernah padam. "The show must go on", itulah yang harus berlanjut. Kami sangat gembira saat kembali memasuki sebuah desa. Hal ini berarti kami telah sampai di Desa Ranu Pani.

Danau Ranu Pani telah berada di samping kami. Sungguh, sebuah danau yang sangat indah.Danau ini berada di ketinggian 2.200 meter dpl, tak heran jika kami tak menemukan sinar matahari di tempat ini. Seperti halnya mata, hati pun terasa "adem" saat berada di tempat ini.

Setelah memarkir kendaraan kami berjalan-jalan mengitari danau. Danau yang luas dan tenang ini semakin bertambah mistis dengan turunnya kabut tebal dan hujan yang kembali datang. Kabut di daerah ini suka datang dan pergi sehingga cukup menghalangi saat kami berusaha mengambil gambar. Tapi gangguan ini tidak seberapa jika dibandingkan keindahan yang dapat kami nikmati.

Di sisi yang lain Ranu Pani kami mendapati sebuah Pura yang cukup besar dan megah. Letaknya yang berada di atas bukit, di pinggir danau dan berselimut kabut membuat Pura ini terkesan megah dan angkuh. Menara pada Pura ini seperti menyimpan daya magis yang menundukkan hati. Jika di ungkapkan dapat menjadi, Sebuah Pura di Pinggir Danau yang Elok, Megah, Magis dan Eksotis.



Setelah waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB kami bersiap meninggalkan Ranu Pani untuk melanjutkan perjalanan ke Bromo.





Selasa, 04 Oktober 2011

Menanti Hujan

Musim hujan sepertinya akan datang di tanah kami. Seperti pagi ini, mendung tipis datang menghalangi terbitnya sang mentari. Burung-burung pun menari sambil berlompatan riang menyambut berakhirnya kekeringan di tanah kami. Udara dingin perlahan menerpa wajahku. Ia membelai seakan mengingatkan bahwa harapan masih ada. Seakan berkata bahwa Sang Ibu belum meninggalkan tempat ini.


Kekeringan telah menghampiri tanah kami di masa-masa sulit ini. Sebuah masa sulit dimana petani kelaparan ditengah areal persawahannya, nelayan mengalami gizi yang buruk dibalik jala dan perahunya, para penambang yang tak pernah menikmati kilau emas mereka dan banyak anak-anak yang tak pernah menuntaskan masa bermain mereka. Sebuah masa sulit yang menjadi lebih sulit atau lebih tepatnya buruk semenjak masa kekeringan berlangsung.


Semenjak masa kekeringan para petani menjadi lebih kurus karena persawahan telah menjadi lahan tandus sehingga mereka pun berevolusi menjadi penjual kayu bakar. Perahu nelayan yang dahulu berlabuh di permukaan danau kini menjadi tandon air karena danau telah kering dan ikan-ikan endemik mungkin akan menjadi legenda jika danau terisi kembali. Para penambang kini masih menjadi budak di tanah nenek moyang mereka yang akhirnya membuat mereka kehilangan keterampilan di masa kejayaannya.


Tersadar dari lamunan panjang matahari telah terbit di timur langit. Mendung tipis telah hilang tak berbekas tanpa meninggalkan setitik air di tanah ini. Namun tak apa, karena tanah ini masih akan tersiram oleh peluh dan tangis para penghuninya.

Sidoarjo, 2011

Minggu, 14 November 2010

Semua yang Ada

Setiap kata yang telah bergulir,
Setiap detik yang tlah terlalui,
Mengukir cerita yang pernah ada,
Dalam hati kita..

Setiap suka yang telah tercipta,
Menahan luka yang pernah ada,
Membuka mata hati kita,
Tuk slalu terjaga

Tak mudah untuk melawan semua tanpa dirimu
Tak mungkin jika kujalani sendiri

Akankah slalu tercipta
Semua yang pernah ada
Berharap ini abadi
Untuk selamanya
Dan untuk selamanya..

Catatan Empat Musim

tak pernah ada kata terlambat
seperti halnya cintaku padamu

bukan karena waktu
bukan juga karena harga diri
terlebih jika kau menyalahkan kesempatan yang terlewatkan

aku tahu engkau menunggu
dengan isyarat yang kau berikan saat musim semi tiba
aku tidak dapat berkata-kata
seperti diam rerumputan yang dibelai oleh angin

saat musim panas tiba membakar cinta
kau memekikkan kerinduanmu padaku
aku tetap diam
layaknya rumput kering yang tak berceloteh pada matahari

aku tahu
hatiku berguguran seperti halnya musim gugur tiba
kau mendapatkan pujaan yang mengisi jiwamu
pohon pun tetap hidup tanpa daun yang menaunginya

aku terkejut
melihatmu sepucat salju yang mulai menutupi bangku di taman
kau bercerita tentang sebuah kekacauan yang terjadi
lebih terkejut saat kau menceritakan kepadaku

mengapa aku??
bukankah aku telah mengecewakanmu..
kenapa harus aku
disaat lebih banyak orang lain yang ada didekatmu..

aku sangat ingin memelukmu
namun aku juga merasa malu akan sikapku

ahhh....hemmm....
kau telah memutuskan akhir dari musim dingin ini..
mungkin inilah tinta sang takdir..
kita bertemu seakan tak ada luka yang pernah terjadi..

bulan masih menggantung diatas langit malam
sama seperti saat perjumpaan kita
hanya tak ada perkenalan pada saat ini
kau dan aku menanti datangnya pagi musim semi pertama diatas bukit ini..

JEMBER, 2010

Menunggu

dan aku pun duduk termangu pada mulut sumur ini..

dibawah rindangnya pohon yang menaungi..

dibuai alunan desau angin dan kicauan burung tak kunjung terlihat..

daun2 pun mulai berjatuhan saat kutuliskan deretan kata ini untukmu..

Seandainya kau tahu aku menunggumu..