Hai Jun, sebenarnya banyak yang ingin aku bahas denganmu. Tentang tanaman-tanaman yang semakin meninggi dan tumbuh subur, masakan-masakan yang sudah tanpa sisa sekalipun hanya kerak yang menepel pada perigi, petualangan di tanah tak berpenghuni yang saat ini mulai tercemar dan karang-karangnya telah mati, buku-buku yang telah tersampul rapi dan menunggu untuk dibaca, tentang bermacam-macam kopi yang bervariasi mulai dari berasa kental, pahit, jagung dan kacang hijau, tentang tradisi sirkumisi yang sudah turun-temurun ditanah ini, tentang telaga di kaki Lawu yang airnya melimpah ruah, tentang dialektika bahan bakar dan perut yang masih ramai di negeri ini, tentang festival yang membahas bunga-bunga dan semesta raya, serta yang paling utama adalah hujan-mu yang dahulu hanyalah sebuah metafor dari seniman tua.
Jumat, 31 Mei 2013
Hey June
Hey June, don't make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better
Hey June, don't be afraid
You were made to go out and get her
The minute you let her under your skin
Then you begin to make it better
And anytime you feel the pain, hey June, refrain
Don't carry the world upon your shoulders
For well you know that it's a fool who plays it cool
By making his world a little colder
Nah nah nah nah nah nah nah nah nah
Hey June, don't let me down
You have found her, now go and get her
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better
So let it out and let it in, hey June, begin
You're waiting for someone to perform with
And don't you know that it's just you, hey June, you'll do
The movement you need is on your shoulder
Nah nah nah nah nah nah nah nah nah yeah
Hey June, don't make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her under your skin
Then you'll begin to make it
Better better better better better better,
ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Sidoarjo, 2013
Arrange from The Beatles - Hey Jude
Minggu, 26 Mei 2013
Rêve de Lune #1
Pernah pada suatu kecil saya memimpikan untuk menjadi seorang juru masak. Keinginan itu adalah satu dari deretan antrian keinginan yang masuk daftar tunggu untuk direlisasikan satu persatu, walapun terkadang ada kalanya kesempatan itu datang ketika sedang berkemah dengan teman-teman. Namun bukan dalam wujud itu yang saya inginkan, Karena saat berkemah, tentu saja seluruh bahan dan peralatan tidak tersedia dengan baik dan seringkali tidak sesuai dan seringkali bahan yang dibawa hanya seputar mi instan, telur dan tempe.
Seperti halnya daftar tunggu yang mengharuskan untuk direalisasikan, dalam dua bulan ini keinginan yang satu ini telah terwujud. Semenjak tinggal di rumah sendiri, saya berketetapan untuk memasak semua makanan yang akan saya makan. Akhirnya, saat semua ini tiba maka saya pun mengisi ruah ini dengan peralatan masak utama, yaitu kompor. Untuk alat memasak awalnya saya hanya memiliki sebuah panic. Panci itu adalah panci yang biasa saya bawa saat berkemah. Namun untung saja saat memasuki rumah baru, para saudara menyumbang peralatan-peralatan memasak seperti wajan, frying pan, steamer, panci sup, spatula, sendok sup, telenan, cobek dan lain-lain. Hal ini tentu saja membuat saya lebih bersemangat.
Untuk dapat memulai karir memasak saya, tentu saja saya harus memiliki bahan untuk dimasak, maka dari itu saya harus berbelanja ke pasar. Saya ingat saat pertama kali berbelanja ke pasar, bahan pertama yang saya beli adalah ikan lele. Saya memasak ikan lele itu menjadi kari lele. Terdengar aneh bukan, namun bukan saya jika tidak menginginkan sesuatu yang berbeda dalam hidup. Hasilnya, tidak buruk kok, enak, malah salah seorang teman memuji masakan perdana saya itu.
Dalam perjalanannya sampai hari ini saya masih memasak untuk saya sendiri. Kegiatan ini tentu saja saya sisip-sisipkan diantara waktu bekerja. Membebani atau repot, itu tergantung dari mindset kita saat melakukannya. Saya menganggapnya sebagai hobi dalam hal ini. Saya menikmati setiap langkah dalam memasak, karena hal ini berkaitan dengan feel. Mencoba merasakan tiap masakan yang akan jadi berasa kurang manis, asin, asam atau gurih adalah suatu perasaan yang memicu adrenalin. Adrenalin, tentu saja , karena pada saat kita bergelut dengan panasnya kuah yang dirasakan, kita juga harus berpikir untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tepat apa saja yang perlu ditambahkan sehingga masakan itu dapat dinikmati, bukan dibuang. Dalam hal terakhir, saya orang yang paling tidak suka untuk membuang makanan, melihatnya saja saya sebal. Makanan adalah karunia dari Tuhan kepada makhluk-Nya dan membuangnya adalah salah satu bentuk tidak bersyukurnya kita kepada karunia-Nya.
Hari ini saya memasak ayam goreng penyet sambal terasi beserta tempe dan tahu bacem.
Bon Appetit!!!!
Sidoarjo, 2013
Selasa, 30 April 2013
Luna's O(pi)nion #3
Akhir-akhir ini dunia pendidikan Indonesia bergejolak bergelora. Bergelora akan sistem-sistem yang terus dikembangkan untuk mengatasi kecurangan para siswa ataupun untuk menaikkan standar kelulusan para siswa. Tujuan yang baik sebenarnya.
Namun tujuan yang baik, belum tentu menghasilkan hasil yang baik jika menggunakan cara yang tidak benar. Disini saya tidak mengkritisi para siswa yang menghalalkan semua cara yang telah disebutkan media akhir-akhir ini. Namun secara sistem pendidikan kita yang tidak benar dalam aplikasi dan langkah-langkahnya.
Pendidikan sudah diterapkan dengan berbagai bentuk kurikulum dan metode. Mulai dari cara belajar siswa aktif ataupun berbasis kompetensi. Cara manapun, saya rasa tidak akan efektif jika pendidikan itu tidak dipahami dengan baik. Maksud saya disini, pernahkah anda bertanya apa itu arti pendidikan, apakah yang dimaksud dengan belajar, apa yang kita harapkan dari pendidikan, apa yang kita kejar saat belajar.
DASAR...
Selama ini kita banyak meremehkan dan cenderung melupakan dasar-dasar dari suatu ilmu sehingga yang kita dapatkan saat "sekolah" lebih banyak fotografis atau hafalan ketimbang memahami dan mampu mengaplikasikan. Padahal, jika dasar telah kuat, sebagaimanapun isu datang berhembus, masih dapat dipilah kebenarannya. Selain itu, dengan dasar yang kuat, kita dapat melakukan aplikasi ke berbagai cabang ilmu yang lain ataupun aplikasi ke kehidupan.
Hal ini belum lagi peran lingkungan yang hanya memusatkan pendidikan hanya dari sekolah ataupun lembaga kursus dalam mendidik generasi muda. Memang tidak mudah, namun saya kira itu memang tanggung jawab dari lingkungan keluarga juga. Seperti halnya pendidikan dini yang dimulai dari keluarga.
Jika memang kesulitan materi, toh sudah banyak mesin pencari data global di dunia maya. Jadi, jika ada kemauan, pasti juga akan ada jalan.
"There's a will, there's a way"
Seperti halnya penyelidikan, begitu pula pendidikan. Dalam perjalanannya, pendidikan akan banyak menemui fakta-fakta palsu atau tidak benar, yang akan menjadi pertanyaan hidup yang tidak akan pernah kita ketahui pasti jawaban absolutnya. Namun pendidikan seperti itulah yang meluaskan wawasan, sehingga tidak terjebak pada satu jawaban tunggal. Hal ini juga membuat peserta didik lebih kritis dalam menerima info dari luar. Memang tidak mudah, tapi sejak kapan hidup itu mudah. Dengan begitu, intuisi akan terasah dan keyakinan semakin teguh. Pengalamanlah yang akan mengasahnya.
Buruknya pendidikan juga dapat dilihat dari lingkungan alam kita yang dari tahun ke tahun mengalami kemerosotan. Selama sungai-sungai masih penuh sampah, bau dan tersumbat, selama itu pulalah pendidikan masih tersendat.
Jika saja setiap orang peduli pada lingkungan dan generasi berikutnya, saya kira kita akan lebih mencintai negara ini pula.
Wassalam,
Sidoarjo, 2013
*catatan di penghujung April
Rabu, 27 Maret 2013
Senja
Hujan masih turun dengan derasnya diluar sana. Sudah sejak setengah jam yang lalu. Hujan di bulan maret bukanlah suatu yang spesial. Ada huruf R pada nama bulan ini yang berarti "Rain". Begitulah katamu dahulu setelah menghisap dalam-dalam rokokmu dan menutupnya dengan menyeruput habis kopi pada lepek mungilmu.
Terjebak di warung kopi dengan hujan deras ini membuatku teringat tentangmu. Tentang caramu yang tenang dan dalam bercerita tentang Jatayu yang hendak menyelamatkan Shinta dari tangan Rahwana, tentang perjalanan Pati Unus yang hendak melawan Portugis dan mati karena terkena cetbangnya sendiri, tentang terbunuhnya AWS Mallaby di Surabaya, tentang sejarah yang kini berseliweran mengaduk-aduk kopiku.
"Kebenaran tidak datang dari langit, ia harus diperjuangkan," ujarmu ketika petugas datang dan menyapu taman baca kita.
Kaulah itu Senja, wanita dengan segala kepiawaian dan wawasan yang mencakup seluruh semesta. Wanita dengan segala keemasan langit dari zenit sampai nadir yang serupa namamu.
"Kita terlahir dalam kesendirian, diasuh, bermain, tumbuh, maka jika ingin terjun atau terbang, jangan ragu untuk melakukannya seorang diri, biar orang lain yang mengikuti jejak kita, karena toh esok kita juga mati dan dikubur seorang diri." Kata-katamu itulah yang membuatku bertahan dalam keputusan ini. Langkah untuk meninggalkan segala kenyamanan ini. Kenyamanan yang membuat lupa diri. Kenyamanan yang mengungkung diri. Kenyamanan yang membuat kita kerdil dan membodohi. Tak dapat melakukan apapun, namun dengan sombongnya ingin memeluk dunia.
Dunia masih melesat tak kurang dari 107.000 km/jam. Namun kau telah jauh meninggalkanku dan terbang di duniamu sendiri. Dunia yang lain dengan berbagai macam teori yang dikenal secara umum oleh manusia. Seperti saat kau menyelesaikan yoga dengan tenang di bengkel las kami yang berisik dan bau. Atau saat kau menceritakan tentang manusia burung bersayap yang ada pada relief-relief bangunan dan kepercayaan di seluruh permukaan bumi, seperti Harpies di Eropa, Jatayu dan Garuda di India dan Indonesia, Alkonost, Gamayun dan Sirin dari Rusia, Anzu, Siris dari Mesopotamia, Ekek di Filipina, Horus and Thoth dari Mesir, Huitzilopochtli di Aztec, Karura dan Tengu di Jepang, Nike , Boreas dan Eros dari Yunani, Tangata manu di Pulau Paskah. Kau mengatakan bahwa semua itu pernah ada, namun sebagian diburu karena memang tidak dikehendaki.
Semua itu kau katakan seolah kaulah sang empunya dunia. Pernah aku berpikir darimana kau dapat semua itu, atau jangan-jangan hanya bualanmu semata. Bualan seperti kegemparan yang tak pernah selesai di negeri ini. Baru kutahu ketika aku mencari tentang kebenarannya. Kau pun tak pernah mendebat penyangkalmu.
Sering aku berpikir,kemanakah semua itu bermuara ketika kodratmu telah mengantarmu menjadi ibu dari anak-anakmu. Sampai saat ini pun, kau masih serupa misteri hidup, tak ada batas yang mengikatmu. Jika masih ada suatu kesempatan, pasti akan aku sambung lagi kekagumanku ini padamu. Perempuan setenang malam dan seluas semesta. Senja Kirana.
Sidoarjo, 2013
Sabtu, 23 Maret 2013
R(acun)utinitas
Rutinitas adalah racun. Datang tanpa engkau sadari. Silence disease paling berbahaya dari jenisnya. Setelah kau menyadari semua telah terlambat.
Sudah kubilang rutinitas adalah racun. Kau akan lengah dibuatnya, dalam zona nyamanmu. Segala yang kau kerjakan berulang-ulang akan menumpulkan keawasanmu, menyudutkan mata dan pikiranmu, mengerdilkan wawasanmu. Dunia pun ikut menyempit seluas keseharianmu.
Apa perlu kubilang lagi bahwa rutinitas itu racun. Kau akan sulit untuk menerima perbedaan, karena keseragaman adalah keseharianmu. Kau nikmati semua itu dengan mengorbankan masa mudamu. Bahkan, idealismu pun mati sebelum ia berbunga. Rutinitas akan menghanyutkanmu dalam pusarannya tanpa mengijinkanmu untuk menguap dan terbang bersama sang bayu. Rutinitas pula yang akan membunuhmu di usia muda. Mereka bilang mati di usia muda bukanlah buruk, mengingat hidup akan lebih banyak untuk bersabar dan berusaha dibandingkan dengan berbuat dalam kesukaan. Namun akan lebih buruk jika rutinitas itulah yang membunuhmu di usia 27 dan menunggu untuk dikuburkan pada usia 72.
Jika memang rutinitas adalah racun hidup, maka bunuhlah ia sebelum ia membunuhmu. Keluar dari zona nyaman dan melihat dunia bukanlah hal yang buruk. Mencari teman-teman yang baru dengan beragam warna hidup juga akan mewarnai harimu. Mencoba hal-hal yang baru juga akan menambah wawasanmu. Keluarlah dari pusaran itu, menguaplah dan terbang bersama sang bayu. Berkondensasilah di belahan dunia lain sehingga dapat kau rasakan salinitas di sungai seberang, dinginnya awan yang menudungi gunung, serta berlari secepat kilat dengan pompaan jantung yang mendorong laju aliranmu.
Barangkali rutinitas adalah sebuah racun, ia akan bernasib sama dengan bungkus-bungkus rokok ditempatku.
Tulung Agung, 2013
Rabu, 13 Maret 2013
Angkuh
Itulah ucapan mereka saat melihatmu melenggak-lenggokkan tubuhmu diatas panggung
Panggung hiburan yang bernama semesta yang maha dahsyat luasnya ini
Berjuta hingga bermiliar mata menatap tiap ujung lekukkmu
Kau berjalan dengan angkuhnya layaknya sang pemilik semesta
Kau berjalan dengan caramu yang misterius
Sebenarnya tidak ada hal yang mewah dalam caramu berjalan
Mungkin ketidakpedulian dan egomu yang sombong itulah yang membuat mereka iri
Keangkuhanmu yang terbungkus oleh jeans belelmu
Keangkuhan yang menusuk tulang-tulang meminjam dingin malam
Keangkuhan yang meniadakan mereka semua
Keangkuhan atas sikapmu yang bebas dan tidak terikat dengan bumi
Keangkuhan yang membuatku jatuh cinta kepadamu
Jember, 2013
