Sabtu, 05 Januari 2013

New Year Happy Camp 2013

Malam tanggal 29 Desember 2012 aku berangkat ke Terminal Bungurasih, Surabaya. Benar saja, ternyata disana sudah ramai sekali. Diantara banyaknya line penumpang dengan berbagai jalur tujuan hanya beberapa saja yang terisi oleh bus yang siap mengantarkan penumpang. Aku berjalan menuju arah line Patas jurusan Jember. Ternyata sampai disana bus tidak ada di line. Sambil menunggu aku putuskan untuk berjalan ke arah line bus ekonomi. Ternyata hasilnya juga idem. Alhasil terlantarlah saya bersama ribuan penumpang lain di tempat itu. Saya  berjalan ke deretan bus yang parkir di belakang line dan benar saja disana ada satu bus patas jurusan jember yang menunggu sambil menaikkan penumpang. Aku pun segera berlari menghampiri pintu depan. Namun sampai di depan pintu ada seorang petugas yang melarang naik karena bus sudah penuh. Benar saja, tidak lama kemudian bus meninggalkan tempatnya tanpa masuk ke line penumpang.


Sambil menunggu bus lain aku memandang ke sekeliling. Ternyata memang jumlah penumpang yang bernasib sama ada ribuan jumlahnya. Calon penumpang paling banyak adalah yang akan menuju Jogja-Solo. Setiap ada bus dengan tujuan kota tersebut berjalan ke arah line selalu diikuti oleh puluhan sampai ratusan orang yang beriringan di samping pintu sampai ke belakang bus tanpa memperdulikan keselamatan mereka. Mereka yang sudah naik pun sudah tidak memperhitungkan kenyamanannya juga karena yang penting mereka telah terangkut. Di dalam bus dapat dilihat orang-orang yang berdiri berdesakan mulai dari pintu depan sampai pintu belakang. Hal ini tentu saja melebihi kapasitas muatan bus tersebut.


Lama menunggu tak ada hasil, aku putuskan untuk berjalan-jalan di parkiran bus sambil menikmati udara dingin yang terhisap bersama asap rokokku. Di ujung parkiran aku melihat bus AC tarif ekonomi jurusan Jember yang sedang parkir dan sudah terisi separuh. Aku pun segera naik dan meletakkan barang-barangku di bawah tempat duduk. Akhirnya selesai sudah masalah menunggu dengan bus ini. Di bis ini aku menemukan satu keunikan tersendiri,  karena kondektur yang menarik karcis ternyata adalah seorang wanita separuh baya. Rupanya Kartini telah menyentuh tempat ini.


Sudah kuduga, saat bus berjalan, bus tidak masuk ke line penumpang melainkan langsung menuju pintu keluar. Perjalanan ke Jember berlangsung lancar tanpa hambatan berarti.


Pukul 3, bus telah sampai di terminal Tawangalun Jember. Begitu turun dari bus aku langsung disambut beberapa tukang ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan ke alamat tujuan dan aku menolaknya karena aku akan dijemput oleh gadisku.


Kami berencana berangkat pukul 4 bersama 8 teman-teman lain menuju Ranu Pani di meeting point terminal ini. Di Tawangalun aku sudah punya warung langganan yang menyediakan makanan ringan dan minuman hangat yang aku sebut Warung Si Emak. Setelah memesan kopi dan mengambil jajanan aku menghubungi gadisku agar ia segera datang. Setelah ia datang, minuman aku tambah lagi dan kami berdua menunggu teman-teman yang lain.


Walau agak terlambat, kami semua berkumpul dan akan berangkat bersama ke Ranu Pani lewat jalur Senduro. Inilah untuk pertama kalinya aku akan melewati jalur ini karena biasanya aku selalu lewat jalur Ngadas, Tumpang.


Perjalanan kami lewati mulai Tawangalun - Rambipuji - Bangsalsari - Tanggul - Lumajang. Sampai pertigaan "Anggur Orang Tua" kami belok kiri ke arah pemandian Selokambang. Setelah sampai daerah Senduro kami mampir di Pasar Senduro untuk belanja melengkapi bekal dan bawaan yang kurang sambil mengambil peralatan kemah yang akan kita sewa.


Setelah semua perlengkapan siap kami menuju jalur Desa Burno yang merupakan desa terakhir sebelum memasuki hutan TNBTS ( Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Di Desa Burno sendiri udara sudah mulai terasa sejuk. Memasuki hutan, sepeda motor kami mulai melenggak-lenggok naik menyusuri jalan. Sampai pertengahan jalan, salah satu ban sepeda motor teman kami ternyata ada yang bocor, di tengah H U T A N... . .  .  .  .


Jalanan sempit membuat kami parkir di pinggir jalan agar kendaraan lain dapat lewat tanpa terganggu. Akhirnya diputuskan bahwa salah seorang yaitu si "Laler" akan turun ke bawah untuk membonceng tukang tambal ban ke atas sini. Benar-benar ide yang CEMERLANG.


tik..tok..tikk...tokkkk......


Berlama-lama kemudian......


tik...tokk...tik....tokkkkk....



Setelah yang ditunggu tidak datang juga, akhirnya aku memutuskan untuk turun menjemputnya bersama salah satu teman. Setelah turun sejauh 3 km dengan jalanan Senduro yang hancur kami berpapasan dengan Laler yang berboncengan dengan seorang wanita yang ternyata tukang tambal bersama peralatannya dan anak laki-lakinya. Sekali lagi, Kartini telah menyapaku kembali.


Sampai diatas setelah peralatan diturunkan ternyata ada seorang laki-laki yang membantu memperbaiki ban sepeda teman kami. Selama ban diperbaiki kami mengobrol tentang jalan yang akan kami tempuh.


Tak berapa lama lewatlah sebuah truk pasir yang ternyata kenalan laki-laki tersebut. Saat itu kami putuskan bahwa seluruh peserta wanita beserta seluruh tas dan seorang teman laki-laki yaitu Kecrot akan ikut truk pasir.

Mereka berangkat terlebih dahulu.


Setelah urusan ban bocor selesai, Laler mengantar kembali Kartini Tambal Ban ke rumahnya. Kami menunggu Laler sambil diguyur hujan khas hutan hujan tropis yang aliran air di jalanannya membawa kawanan lintah. Dua diantaranya berhasil menempel di kaki teman kami si "Tole" dan berhasil pula minum sampai gemuk tanpa diketahui. Setelah Laler datang, kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri hutan.


Jalanan sejauh 20km dengan kondisi rusak, banjir dan menanjak kami lahap  dengan dua kali berhenti untuk mengistirahatkan mesin kendaraan. Saat beristirahat di jalan, kami mensyukuri kejadian ban bocor tadi. Karena jika tetap berboncengan, tentunya kendaraan kami tidak akan bisa berjalan naik menanjak dengan membawa 2 orang per sepeda ditambah barang bawaan yang berat seperti Carrier. Memang selalu ada hikmah dan kemudahan dibalik suatu musibah.


Kami sampai di Ranu Pani dan langsung berkumpul dengan teman-teman yang naik truk.


Tidak lama kami langsung mendaftarkan tim ke Pos Ranu Pani dan memarkir kendaraan. Karena sudah banyak waktu yang terbuang di bawah tadi, kami langsung saja mengunjungi Warung Rawon Pani yang terkenal diantara para pendaki untuk makan nasi yang tidak akan kami rasakan untuk 2 hari ke depan.


Setelah semua perut terisi, Aku, Erviana, Ichsan, Icha, Leped, Tunink, Kecrot, Laler, Tole dan Telik bersiap untuk berdoa memohon keselamatan bersama yang dipimpin Kecrot agar sampai di tujuan dengan selamat. Amien.


Setelah berdoa, kami pun berjalan menuju jalur pendakian Semeru. Kami menuju gapura pendakian diantarkan oleh hujan yang mulai turun.


Sampai di gapura jalur pendakian, aku membungkuk untuk mengambil tanah yang mulai basah layaknya pemain bola yang akan masuk ke lapangan. Aku berdoa sekali lagi untuk keselamatan kami.


Baru 100 meter kami berjalan, ada jalur pendakian yang membawa kami ke atas. Jalur pendakian sudah dipaving dengan baik.


Jalanan yang cukup menanjak, membuat para wanita mengajak beristirahat karena kelelahan. Kami terus berjalan, aku bersama dengan Erviana, Ichsan dan Icha. Leped bersama dengan Tole dan Telik . Tunink sudah di depan bersama pembawa carrier, Kecrot dan Laler. Seringnya istirahat membuat aku, Ervi, Ichan, Icha, Tole, Leped dan Telik menjadi rombongan terakhir yang sampai di Pos 1.

Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan bersama-sama kembali. Selama perjalanan ke Pos 2 tim kembali pecah menjadi 2 bagian seperti awal.Saat kami sampai di Pos 2 para pembawa carrier sudah tidak terlihat karena mereka telah berjalan lebih dahulu. Sampai Pos 2 hari sudah petang. Hal ini tentu saja membuat kita memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan.


Baru berjalan 200 meter, kami mulai menyalakan lampu senter. Bersama para pendaki lain yang jauh lebih berpengalaman dan berperalatan lengkap kami berjalan menyusuri gelap, membelah perdu, melompati balok-balok kayu yang melintang, menanjaki tanah basah, menggelincir di teturunan dan menyibak tiap sudut jalan dengan sorot lampu senter serta doa yang selalu terucap untuk terus membimbing kami sampai tujuan. Selama berjalan hawa dingin tidak terasa sama sekali di badan. Namun ketika kami beristirahat dan tubuh mulai rileks, udara dingin langsung menusuki kulit berusaha menembusi tulang.


Setelah bersusah payah dan beristirahat berulang-ulang, kami sampai di Pos 3 yang sudah rubuh. Ternyata para pembawa carrier sudah menunggu 3 jam disana. Tentu saja mereka kedinginan. Badan yang tidak bergerak tidak menimbulkan kalor. Hal ini membuat dinginnya malam segera mengeroyok mereka lebih ganas dari nyamuk-nyamuk yang kelaparan. Sambil menunggu kami beristirahat mereka menyiapkan kembali untuk perjalanan selanjutnya. Disini Icha sempat mengalami kelelahan. Namun setelah diberi support secara moral dan makanan kami kembali berjalan bersama kembali.


Jalanan setelah pos 3 adalah tanjakan yang licin. Disini Leped sampai harus merangkak untuk dapat melewatinya. Karena perjalanan berlangsung lambat, akhirnya aku, Ervi, Tole dan Leped tertinggal berjalan paling akhir. Kondisi Leped yang sudah sangat kelelahan membuat kami sangat sering berhenti. Namun itulah gunannya teman bukan. Walaupun ada yang kelelahan, tetapi kita tetap mensupport agar bisa bersama-sama sampai tujuan. Termasuk membawakan bawaannya agar dapat lebih tinggi bersama-sama, walaupun selangkah lebih tinggi bersama-sama.


Akhirnya medan tanjakan sudah mulai habis. Jalanan mulai datar, hanya ada rumput-rumputan yang tersibak di kiri dan kanan jalan. Jalanan sudah tinggal lurus datar pertanda kami mulai memasuki areal Ranu Kumbolo, tujuan kami. Tidak lama kami pun melihat lampu-lampu tenda di bawah Tanjakan Cinta yang jumlahnya ratusan beserta siluet Ranu Kumbolo yang mempesona.


Perjalanan 10 jam yang menguras tenaga menjadi lenyap. Tiba-tiba seperti ada tenaga lagi yang mengantar kami sampai Pos 4. Sampai Pos 4 yang terletak diatas danau aku berteriak memanggil nama teman-teman yang sudah sampai terlebih dahulu. Setelah mendapat teriakan jawaban beserta isyarat lampu senter aku dan Ervi langsung beringsut turun menggelincir di turunan berlumpur becek agar lebih cepat sampai.


Benar saja, Telik langsung menyambut kami dan Icha langsung menyodorkan makanan. Setelah memeriksa jam, ternyata kita baru sampai pukul 1 dini hari. Padahal kami berangkat dari Ranu Pani pukul setengah 3. Berarti kami telah berjalan 10,5 jam. Karena masih lapar, aku membuka tas dan mengambil mi instan untuk dimasak lagi. Setelah Tole sampai kami makan berdua di bawah langit malam, di samping Ranu Kumbolo. Karena kelelahan yang sangat, tidak lama kemudian kami bersepuluh langsung tidur didalam tenda berbalut sleeping bag masing-masing.


Keesokan harinya aku terbangun pukul setengah tujuh oleh suara Ervi dan Tole.

Ranu Kumbolo yang kemarin tampak hanya siluetnya tiba-tiba menjelma sangat nyata di pagi hari ini berbalut kabut tipis yang beriringan pada permukaannya. Surga di lereng Gunung Semeru.


Baru saja bangun, Ervi sudah menawarkan makanan dan minuman hangat untuk berdua. Kami pun sarapan berdua di pinggir ranu. Selesai makan, teman-teman yang lain menyusul sarapan.


Setelah sarapan, aku, Ervi dan Telik berinisiatif untuk jalan menaiki Tanjakan Cinta sambil menyapa Oro-oro Ombo. Aku dan Telik melewati jalur atas, sedangkan Ervi berjalan menyusuri pinggiran ranu. Sepanjang perjalanan kami berfoto-foto untuk koleksi pribadi.


Mengutip kata-kata seorang teman, "Jangan meninggalkan apapun selain jejak dan jangan mengambil apapun selain foto, agar alam kita tetap lestari." Thanks to Nunnu Naufal.


Ternyata para pendaki yang mendirikan tenda di bawah Tanjakan Cinta sudah sangat banyak, maklum lokasi paling favorit karena disini tempat terbaik menikmati matahari terbit Ranu Kumbolo yang tidak kalah terkenal dengan Bromo. Bermacam-macam jenis tenda dengan bermacam-macam merk dapat ditemui disini.


Kami segera mendaki Tanjakan Cinta. Aku tidak memperdulikan mitos didalamnya karen toh sudah ada Ervi disampingku saat ini dan itu sudah cukup. Layaknya happy hike, kami berjalan santai dengan berkali-kali beristirahat saat menaiki tanjakan. Sampai diatasnya kita akan mengerti mengapa disebut tanjakan cinta. Karena pada bagian atasnya kita seperti berjalan di bagian atas bentuk hati (love) yang menyempit. Setelah itu pemandangan Oro-oro Ombo akan hadir didepan indera penglihatan kita. Sangat kontras dengan saat kita menoleh ke belakang.


Setelah pukul 9 kami bergegas balik ke tenda menyusuri tepian Ranu Kumbolo.

Pukul 09.00 Telik dan Tole memutuskan untuk kembali ke Jember terlebih dahulu karena ada urusan yang tidak bisa dilewatkan. Sedangkan kami ber delapan memutuskan masih tinggal untuk semalam lagi karena ingin merasakan dingin dan indahnya suasana di Ranu Kumbolo.


Setelah mengantarkan kepulangan mereka, kami yang memilih tinggal memutuskan untuk memindah lokasi tenda kami. Meski hanya berjarak 15 meter, namun suasananya lebih privasi karena terlindung oleh dua gundukan bukit kecil. Pemindahan ini kami lakukan secara langsung tanpa membongkar tenda, sehingga dari kejauhan akan terlihat empat orang perkasa mengusung tenda diujung-ujungnya layaknya penopang Panglima Sudirman.


Ketika hari menjelang siang aku memutuskan untuk membaca buku yang kubawa dari rumah sambil menikmati dinginnya Ranu Kumbolo di dalam tenda hingga akhirnya aku tertidur pulas.


Tiba-tiba hujan turun mengguyur seisi Ranu Kumbolo. Aku dan beberapa teman yang ternyata juga tertidur pulas akhirnya terbangun oleh dinginnya air hujan yang masuk ke dalam tenda. Pertama yang kami seamatkan tentu saja sleeping bag, karena inilah nyawa kami di malam hari. Usai menyelamatkan sleeping bag dan benda-benda lain, kami memperbaiki cover tenda agar air tidak dapat masuk. Benar saja, karena proses pindahan tadi, cover tidak tertarik dengan baik yang menyebabkan air hujan masuk. Suatu pembelajaran yang berharga dikemudian hari.


Sore itu aku berjalan-jalan lagi untuk menghangatkan badan, terlihat beberapa orang memancing. Ternyata ikan-ikan yang ada di Ranu Kumbolo cukup variatif macamnya, ada lele, mujair, bader, gatul dan lain-lain. Bahkan menurut Tole, dia pernah melihat ikan seukuran paha manusia dewasa.


Kabut yang mulai turun di sore hari ini menambah cantik suasana. Beberapa sudut Ranu Kumbolo mulai tertutup kabut. Entah dari mana saja mereka datangnya.


Malam harinya kami hanya di dalam tenda sambil masak dan bercerita serta bercanda. Pukul 21.00 kami memutuskan untuk tidur karena esok mesti bangun pagi untuk pulang, memngingat perjalanan pada saat naik yang membutuhkan waktu yang lama.

Malam harinya kami terbangun oleh suara-suara tetangga menyambut pergantian tahun. Bahkan di Ranu Kumbolo sekalipun, tahun baru diwarnai dengan pesta kembang api yang menghiasi langit malam. Selain itu, kami terbangun pula oleh suara tetangga yang meminjam golok kami dan memotong kayu di depan tenda kami, serasa film "I Know What You Did Last Summer" gitu lah.


Esok harinya, aku dibangunkan oleh suara Icha,"Waaahhhh, mist-nya banyak, keluar dari air danau." Walaupun ingin keluar untuk melihat, tapi dingin menahan badan ini untuk tetap bereada di balik sleeping bag. Hingga akhirnya Icha dan Ervi dengan sadisnya membawakan air kumbolo untuk diusapkan di wajah.


Pagi itu kami segera membuat sarapan dan dimakan bersama-sama. Setelah itu membereskan perlengkapan tenda dan pulang.


Pulangnya kami membawa sampah yang kami bawa, bentuk kewajiban kita sebagai generasi bangsa. Selain itu, kami percaya bahwa seperti halnya perbuatan buruk yang mudah ditularkan dari satu individu ke individu yang lain, begitu pula perbuatan baik, ia akan menular pula ke yang lain.


Dalam perjalanan pulang kami menikmati pemandangan kaki Semeru yang tidak sempat kami nikmati saat berangkat. Perjalanan pulang ini serasa fun trekking karena kami disuguhi pemandangan alam yang cantik dan liar yang menjadi satu. Pos demi pos kami lalui tanpa kesulitan berarti seperti saat kami naik.


Setelah melewati pos 2, kami bertemu dengan teman semasa kuliah, yaitu Cahyarani Febriana. Meski pertama melihat agak ragu untuk menyapa, akhirnya saling menyapa juga. Ternyata dia kemarin sudah sampai puncak loh, salut deh buat Nana.


Perjalanan turun ini tidak membutuhkan waktu yang lama seperti saat naik. Hal ini ditunjukkan dengan waktu turun yang cuma berlangsung 4 jam saja, dari pukul 09.15-13.25. Sampai bawah kami kembali berfoto dibawah gapura selamat datang dan kami sempat berfoto dengan pendaki-pendaki yang lain loh.


Sampai Ranu Pane kami langsung menyerbu Warung Rawon seperti saat akan berangkatnya. Setelah makan dan membuang sampah, kami mengambil kendaraan dan pulang ke Jember.


Perjalanan ke Jember pun rupanya masih ingin memberikan petualangan untuk kami. Saat berada di kawasan Jatiroto hujan beserta angin turun begitu derasnya. Lampu jalan yang mati membuat marka jalan tidak terlihat. Hujan berlangsung derasnya sampai kami sampai di Tanggul.


Sampai di Jember, kami langsung mencari makan masing-masing. Selesai makan, saya mengantarkan Ervi ke kosnya dan saya berkumpul di rumah Iksan bersama dengan teman-teman yang lain.


Esok paginya, saya langsung kembali ke Surabaya via Terminal Tawang Alun, Jember.


Demikianlah perjalanan Happy Camp tahun baru 2013 bersama kalian semua. Pada Januari-nya grup ini kita beri nama "Camp Bunga Matahari" yang tidak disetujui oleh semuanya sehingga berganti ama menjadi "Kredo Travelers".


Have a nice year Kredo's


-Fin-


Malang, 2013

Minggu, 23 Desember 2012

Terbang

Terbang,

Ketika pikiran mengawang menembus awan.

Ketika percakapan itu menyeruak bersama uap kopi panas.

Ketika asap rokok memberitahukan kepada angin.

Ketika angin mengabarkan pada dunia.

Ketika dunia mengenalkannya kepada semesta.

Dan, semesta bahu membahu untuk mewujudkannya.

Sedangkan kita, cukup hanya mempercayakannya.


Sidoarjo, 2012


*menghitung hari 2013


Published with Blogger-droid v2.0.4

Jumat, 21 Desember 2012

Journey of Life #1

Barangkali ini anugrah

Saat kaki menemukan jalannya

Saat tangan menggapai lebih dari jangkauannya

Saat mata menembus semua penghalangnya


Barangkali ini kebetulan

Saat kaki tak menjejak duri

Saat tangan terhindar batu tajam

Saat kabut sedang dihempas angin turun


Berjalan sendiri terasa menyenangkan

Ketika kaki melangkah tanpa beban

Ketika tangan bebas menyentuh

Ketika semua pandang menembus batas


Aku berlari

Terus berlari

Tiada berhenti

Masih berlari


Bukan tersandung yang aku khawatirkan

Bukan pula ular menggantung yang aku takutkan

Pun jurang dan semak belukar yang merintang

Namun, batas senja


Jika api ini padam

Jika hati membatu

Dan pandang telah terbutakan

Saat itulah aku akan ikut bersamamu,

Yang tidak hidup, namun tak juga mati.


Karena,

Barangkali ini mimpi.


Sidoarjo, 2012


*Catatan di sudut malam yang sepi


Published with Blogger-droid v2.0.4

Minggu, 09 Desember 2012

Tentang Keinginan

Apa keinginanmu yang sampai sekarang ini belum terpenuhi?


*Pertanyaan diatas dari twit @BentangPustaka tanggal 09 Desember 2012


Pertanyaan yang singkat. Mungkin juga sebuah pertanyaan sederhana. Tapi entah mengapa pertanyaan itu muncul berulang kali dalam pikiran. Semakin pertanyaan itu berulang semakin membawaku ke tahun-tahun yang lampau. Sampai pada suatu masa terjauh yang aku kecil.

Jika semua permintaan keinginan itu dimasukkan kedalam daftar pastilah perlu berim-rim kertas yang tak terhitung jumlahnya. Memang tidak semua keinginan itu terwujud. Kalau kata orang, tidak semua yang kita inginkan adalah apa yang kita butuhkan, dan Tuhan hanya memberikan apa yang kita butuhkan. Mungkin Tuhan hanya memberikan sebagian mimpi yang terbeli.

Jika direnungkan, banyak hal yang dulu kita inginkan dan kita mimpikan ada pada diri kita saat ini, namun kita tidak menyadari dan tidak kita syukuri. Banyak keinginan yang telah terwujud namun kita malah berkeluh kesah atasnya. Segala sesuatu yang kita miliki saat ini, bisa saja jawaban atas doa-doa dan mimpi kita di masa lalu yang telah terlapisi sedimen-sedimen waktu, entah itu pasangan, pekerjaan, tempat tinggal, kondisi dan apa saja yang saat ini kita miliki.


Banyak hal yang membuat kita lupa mensyukurinya. Dimalam yang panjang ini aku sangat mensyukuri satu persatu apa yang dulu aku inginkan dan telah terpenuhi saat ini. Apalagi keinginan atau mimpi yang dahulu masuk kategori unreachable, tidak mungkin tercapai. Walaupun, masih banyak juga keinginan baru yang mengisi daftar panjang kehidupan dimasa mendatang. Semoga Tuhan tidak bosan-bosan mendengar satu persatu keinginan ini, baik yang masuk akal ataupun tidak.


Saat ini, salah satu keinginan besar yang telah tercapai adalah memiliki rumah. Sedangkan salah satu keinginan sederhana yang belum tercapai adalah naik pesawat terbang.


Semoga Tuhan mendengar dan membaca keinginan kita semua.

God Bless Us.


Sidoarjo, 2012



Published with Blogger-droid v2.0.4

Kamis, 06 Desember 2012

Desember

Desember,


Bulan terakhir di penghujung tahun

Bulan dimana aku dilahirkan

Bulan hujan membasahi tanah ini

Bulan dimana aku menemukanmu

Bulan dimana seribu harapan tumbuh


Aku selalu menantinya

Seperti halnya aku menantikanmu

Sebuah harapan tentang hari esok yang lebih baik

Sebuah kenangan tentang setahun yang panjang

Setahun yang menuliskan banyak cerita

Serupa kepingan puzzle yang satu persatu mencetak sketsa hidup ini


Desember kali ini,

Aku bersyukur dengan semua yang Kau beri

Aku masih menunggu datangnya esok

Esok yang aku yakini lebih baik dari saat ini


Desember


Malang, 2012


Published with Blogger-droid v2.0.4

Selasa, 20 November 2012

Bromo-Pani Trip Report 12-13 November 2012

Pada trip kali ini saya bersama seorang teman saya mengunjungi Puncak Penandjakan untuk melihat matahari terbit Bromo yang tersohor di seluruh dunia.


Pada 12 November 2012, saya dan teman saya, Sutopo memulai perjalanan dari Surabaya. Kami berangkat pukul 09.00 menggunakan 2 motor yang dikendarai sendiri-sendiri.


Perjalanan dimulai dari Surabaya - Sidoarjo - Pandaan - Sukorejo - Purwosari - Nongko Jajar - Tosari - Penandjakan. Kami berangkat pagi hari menembus jalanan Sidoarjo yang cukup padat dan jalanan Porong sampai Apolo merambat, tapi lepas dari titik tersebut kondisi jalan relatif lancar. Setelah melewati Purwosari tepatnya Kebun Raya Purwodadi, kami mengambil jalur kiri untuk belok ke arah Nongko Jajar. Begitu belok ke arah Nongko Jajar, tidak sampai 100 meter kami sudah disambut udara dingin pegunungan.


Dinginnya udara dan jalan yang berkelok-kelok membuat petualangan ini semakin nyata. Udara panas siang hari tidak terasa di kulit, hanya dingin dan sejuk yang menerpa wajah dan kulit saya. Jalanan yang dilalui pun begitu menyenangkan, jalan naik turun berkelok bernuansa hijau pegunungan dan birunya langit membuat mata ini serasa dimanjakan.


Pemandangan bertambah menakjubkan saat kami mulai melewati batas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pemandangan gunung, lembah dan sungai bergantian menyegarkan mata. Sungguh, rasanya segala penat menguap bersama terpaan angin yang mengusap tubuh ini.


Tidak berapa lama kami tiba di jembatan yang sungainya menurut saya cukup eksotik.

Di sungai itu kami sempat berhenti untuk merasakan dinginnya air pegunungan. Di seberang jembatan ini mulai terlihat pura untuk sesajen umat Hindu. Setelah melewati batas Taman Nasional kita akan memasuki dusun-dusun masyarakat Tengger yang sebagian besar memeluk agama Hindu. Tengger sendiri ini tidak luput dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang merupakan nenek moyang suku Tengger yang mendiami daerah Bromo Tengger Semeru.


Perjalanan kembali dilanjutkan. Jalanan kembali naik , desa-desa terlihat seperti rumah-rumah liliput jika dilihat dari atas sini. Sebagian rumah mengeluarkan asap pertanda dapur mereka memasuki jam produksi. Para petani terlihat menggarap ladang mereka, namun ada juga yang santai sambil menghisap rokoknya. Sungguh tenang, tentram dan damai.


Akhirnya kami tiba di Desa Tosari bawah. Di sini kami menyempatkan diri makan bakso tengger sambil menikmati udara dingin di lereng pegunungan Bromo. Harga bakso disini Rp 5 ribu/porsi, porsi yang ditawarkan juga tidak bisa dikatakan sedikit karena perut kami langsung terasa penuh.


Lepas dari acara makan, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi penginapan di area loket Penandjakan. Untuk penginapan kami telah pesan terlebih dahulu kepada Pak Marimin. Harga yang dipatok  saat itu Rp. 150ribu/kamar.



Fasilitas yang didapat antara lain televisi, dapur + gas, ruang makan dengan meja makan untuk 8 orang. Jadi sebenarnya penginapan itu berbentuk rumah, namun dalam penyewaannya mereka tetap mematok per kamar.


Sampai di penginapan kami langsung menaruh barang-barang bawaan. Setelah itu Pak Marimin mengajak berbincang-bincang dan menawari kami teh hangat atau kopi, kami memilih teh. Tak berapa lama seorang gadis berseragam SMP mengantarkan teh hangat untuk kami, kami pun tak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah minta ijin, kami meminumnya sambil menikmati udara siang yang dingin. Waktu yang saat itu menunjukkan pukul 14.00 sudah seperti pukul 17.00 di Surabaya.


Sore hari kami menyempatkan diri berkeliling sekitar desa. Saya tertarik dengan pura yang terletak di atas bukit. Pura itu terlihat kokoh dan megah seperti sebuah benteng yang menaungi pemukiman sekitarnya.


Pukul 16.30 kami naik ke Penandjakan untuk menikmati suasana barisan gunung Bromo di sore hari. Selama perjalanan menuju Penandjakan kami melewati jalanan yang diapit jurang dan terdapat pohon beringin yang berjejer rapi di tiap sisinya. Saat itu saya merasa berjalan di jalur naga, jalan yang dilalui Son Goku untuk berlatih di akhirat, hahaha..


Sampai di Gunung Penandjakan, memang benar kabut telah menyelimuti deretan pegunungan Bromo sehingga kami pun naik lagi ke camping ground untuk mengambil beberapa gambar.


Setelah puas kami turun ke penginapan. Benar saja, saat turun ternyata jalanan sudah gelap. Pelan-pelan kami menuruni jalanan gelap dan berkelok dengan hati-hati. Sampai di loket, kami langsung mampir ke warung untuk memesan nasi goreng dan kopi. Nasi goreng yang disajikan cukup enak dan udara malam yang mendukung menambah nikmat suasana (what a wonderful world deh).


Saat menunggu makanan tersaji, kami sempat bertemu dengan mas Heru yang menawarkan penginapan. Ia menawarkan kamar dengan harga Rp. 100ribu, kamar saja. Selain itu, ia juga menawarkan rumah dengan 3 kamar, kamar mandi, ruang makan + meja dan dapur yang dapat menampung 10 orang dengan harga Rp. 300ribu. Lumayan sambil menambah referensi penginapan, siapa tahu besok datang dengan keluarga atau bala kurawa, hehehe.


Selesai makan, kami langsung pulang dan beristirahat di penginapan sambil menunggu esok tiba.


Pagi harinya kami bangun pukul 04.00 untuk segera berangkat ke Penandjakan melihat acara utama, (drum roll) yak, matahari terbit. Kami dijemput oleh Pak Marimin, setelah membayar tiket Rp. 15ribu/orang kami segera meluncur ke Penandjakan. Jalanan gelap yang kami lewati semalam kami lewati lagi. Tidak lama kemudian kami sampai di Penandjakan.


Ternyata disana sudah ramai wisatawan lokal dan mancanegara. Namun yang paling mendominasi adalah wisatawan mancanegara. Dari logatnya saya menduga sebagian besar dari mereka datang dari Perancis (hehehe, sok tau kali kau bang).


Akhirnya "Golden Time" dari matahari terbit telah tiba. Saya menyebut demikian karena bagian terindah dari Sun Rise ini hanya berlangsung kurang dari 5 menit. Jadi kita tidak boleh membuang kesempatan emas ini. Kami juga beruntung karena saat itu cerah, matahari tidak terhalang kabut dan awan, apalagi hujan. Pada lautan pasir dibawah Penandjakan pasir tidak terlihat karena tertutup kabut tebal. Sempat ngeri juga bayangin kalau kami harus menempuh jalur tersebut sebentar lagi.


Setelah puas menikmati dan mengambil gambar, Pak Marimin mengajak kami "ngopi" sambil menunggu waktu turun. Oia, karena saat itu jalan menuju Bromo ditutup. Jadi kami mesti melewatinya dengan ilegal melewati jalan setapak berpasir. Pak Marimin juga berkata bahwa walaupun orang asli situ juga tidak boleh malalui jalan tersebut sampai pengerjaan selesai tanggal 28 November 2012.


Akhirnya benar saja, untuk melewati portalnya sepede motor harus kami rubuhkan. Setelah itu kami mengikuti Pak Marimin melalui jalan setapak berpasir yang disamping kanannya adalah JURANG yang dalam. Sempat ngeri dan bergidik juga sih, tapi ini juga bagian dari petualangan yang asyik menembus gunung dengan sepeda matic brooo. Sampai jalan utama, kami berpisah dengan Pak Marimin untuk meneruskan petualangan ke kawah Bromo. Pak Marimin pun menagih jasa guide-nya sebesar Rp. 50ribu. Selesai membayar kami menuruni jalanan curam beraspal namun berpasir dengan kemiringan 45 derajat. Sungguh bukan hal mudah.


Disini kehandalan mengemudi menjadi pertaruhan nyawa. Karena jika kita terpeleset, jurang berbatu telah menanti kita.


Disini saya bertemu dengan seorang lelaki yang setiap hari harus berjalan dari Tosari ke Sukapura menuruni Penandjakan dan menyebrangi lautan pasir berbisik setiap hari hanya untuk mencari rumput untuk pemilik kuda disana hanya untuk mencari makan dan menyambung hidupnya dan keluarganya. Perjuangan yang patut dihargai. Saya merasa beruntung dan bersyukur dengan apa yang saat ini saya miliki, entah esok hari, atau lusa nanti, entaahhhh.


Akhirnya saya menawarkan tumpangan pada pria tersebut untuk sampai ke seberang. Sampai bawah Penandjakan, benar saja kabut tebal telah menanti sehingga jalur kendaraan tidak terlihat. Namun untung saja pria tersebut memberi petunjuk jalur yang benar, sehingga kami berdua berhasil menembus pasir berbisik dengan terseok-seok dan tergelincir diatasnya. Bahkan beberapa kali pria itu turun dari boncengan karena ban sepeda saya tenggelam di lautan pasir. Sampai di patok kawah parkiran Jeep kami berpisah, saya belok ke arah kawah dan ia harus terus untuk sampai ke Sukapura.


Sebelum menuju ke kawah, saya dan teman berfoto dengan kendaraan masing-masing.


Saat akan berangkat, seorang gadis melambai ke arah saya. Tentu saja saya bingung, saya tidak janjian dengan siapapun disini. Apakah ia orang yang saya kenal. Ah, mungkin saja ia memanggil penjaja kuda tunggangan. Karena ragu, saya pun mengangkat tangan dan berhenti sejenak.


Ternyata betul sayalah yang ia panggil. Akhirnya ia dan temanya yang perempuan juga menghampiri kami. Ia ternyata mau menumpang sampai ke arah tangga kawah. Karena saya dan teman tidak berpenumpang,maka kami menyetujuinya. Kami berempat pun menyebrangi pasir berbisik ke arah kawah.


Ternyata dua gadis itu bernama Tri dan Nunu. Mereka datang dari Jogyakarta, Tri asli Pasuruan sedangkan Nunu asli Balikpapan, dan mereka berdua ternyata suka berpetualang juga. Setelah memarkir kendaraan, kami berempat berjalan ke kawah bersama-sama.

Ternyata mereka sebelumnya juga dari Penandjakan naik Jeep.


Saat berjalan menaiki tangga saya menghitung jumlah anak tangga menuju puncak. Ternyata, dari hasil perhitungan saya dan teman-teman yang dihitung sambil terengah-engah, jumlah anak tangga dari bawah sampai atas adalah sejumlah 230 anak tangga. Catat..!!!!!!


Sampai diatas kami menikmati pemandangan kawah Bromo yang cukup seram menganga yang mengeluarkan asap tebal. Sisi gunung Batok yang dulu tertutup debu erupsi rupanya mulai ditumbuhi tumbuhan hijau. Kabut tebal yang menyelimuti perlahan menghilang berganti siraman sinar matahari.


Sambil menikmati pemandangan dari puncak Bromo, saya menawarkan perjalanan selanjunya menuju Ranu Pane kepada Tri dan Nunu. Setelah berunding akhirnya disepakati bahwa kami berempat melanjutkan perjalanan setelah sarapan di Sukapura dan setelah mengambil bawaan mereka di Hotel.


Setelah sarapan dan memberi minum kendaraan, kami menyusul 2 teman baru kami tersebut. Begitu anggota lengkap 4 orang, kami melanjutkan perjalanan ke arah Tumpang. Saat menembus pasir berbisik Nunu sempat tidak menyangka akan menyebrangi gurun pasir menggunakan kendaraan matic berboncengan. Sepertinya dia belum pernah dan tidak pernah menyangka bahwa selain unta, matic juga cukup gagah untuk menyebrangi gurun pasir (elus-elus Shiro).


Selesai membelah gurun pasir, kami menyebrangi lautan savanah yang akhirnya berujung jalan semen dibawah lereng batu sebelah kiri dan bukit teletubies sebelah kanan. Bukit Teletubies ini cukup terkenal loh, karena memang bentuknya seperti bukit di film teletubies, dan sudah kondang dengan predikat tersebut di kalangan para petualang.


Akhirnya kami sampai di pertigaan Bromo-Tumpang-Semeru. Untuk menuju Ranu Pane, kami mengambil jalan ke arah Semeru. Jalanan menaik mengantarkan kami ke puncak tebing di atas savanah dan pasir berbisik yang telah kita lalui. Jadiii, bayangkan sendiri saja pemandangannya, hehehe =D..


Tanjakan yang curam dan jalanan yang rusak sebagian membuat Nunu harus turun dan berjalan agar kendaraan tetap bisa naik. Tanpa terasa kami telah sampai di Desa Ranu Pani yang terletak di atas awan. Kami sempat mampir ke gerbang pendakian Semeru, lalu berbalik arah untuk parkir di kantor Ranu Pani. Setelah parkir kami berjalan ke arah danau Ranu Pani dan terus ke Ranu Regulo.


Sampai Ranu Regulo saya terkagum-kagum dengan Papan Vandalisme yang dibangun khusus untuk tangan-tangan jail disana. Dasar saya yang tidak bisa diam kalau lihat air langsung saja saya menghampiri dermaga di pinggir danau.


Saya langsung duduk di tepi dermaga.


Disinilah saat-saat paling sakral terjadi...


Air danau yang tenang...


Angin sepoi-sepoi yang membelai wajah...


Hanya ada suara burung yang bergantian dengan interval teratur (bukan bersahut-sahutan)...


Awan yg meneduhkan dari sinar matahari...


Gemerisik rumput yang digoyang angin...


Semua itu berjalan dalam SLOW MOTION....


SLOWWW...


S..L..O..W..


Saking tenangnya beberapa ikan mas tidak menyadari kehadiran kami. Mereka muncul tepat dibawah kami dan menghilang saat kami menggerakkan anggota tubuh.


Semua senyap itu menguap bersama penat. Saya merebahkan badan diatas dermaga sejenak sampai silau mentari mengintip dibalik awan.


Setelah cukup lama, saya dan Topo mengambil beberapa foto di tepi danau. Melihat pohon yang besar, kokoh dan upable (bisa dinaiki maksudnya), Topo segera memanjat dan saya langsung mem-foto-nya. Dia juga minta foto bersama bunga terompet yang ada disana (macam india-india-an kau ini bang).


Setelah puas berfoto-foto ria, kami berempat meninggalkan danau tersebut. Setelah membayar parkir Rp. 5ribu/sepeda, kami melanjutkan perjalanan turun ke Tumpang. Sepanjang perjalanan ke Tumpang kami bertemu puluhan pendaki Semeru dengan ratusan carrier yang mengendarai Jeep 4WD.


Baru saya tahu setelahnya bahwa di Semeru ada Jambore para pendaki. Bahkan tanggal 15-nya ada presenter Jejak Petualang, mbak Medina Kamil ikut naik ke Gunung Para Dewa itu.


Selama perjalanan turun kami melewati Desa Ngadas. Kami sempat mampir untuk foto-foto di gapura TNBTS untuk kenang-kenangan.


Sampai di Tumpang, kami mencari makanan (maklum, kebiasaan orang turun gunung). Kami makan siang di depot samping I***mart Tumpang. Saya dan Topo memesan Nasi Krengsengan + Kopi, sedangkan Tri dan Nunu memesan Soto + Kopi dan Teh. Ternyata ibu pemilik depot cukup baik loh, saat kami mencari travel untuk Tri dan Nunu, beliaunya membantu sebisanya. Makasih ya bu.


Akhirnya Saya dan Topo kembali ke Sidoarjo meninggalkan Tri dan Nunu di Terminal Tumpang untuk lanjut ke Terminal Arjosari menuju Jogyakarta.


Demikian petualangan Bromo-Pani kali ini. Senang rasanya bertemu dan berpetualang bersama kalian semua guys. Report ini terdahului oleh report Sempu karena memang banyak yang perlu di-edit, tapi syukurlah akhirnya terbit juga.


Sidoarjo, 2012.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Minggu, 18 November 2012

Trip Report Sempu Laguna 16-17 November 2012

Long weekend kali ini saya dan teman-teman mengunjungi Pulau Sempu di selatan Malang. Pesertanya antara lain Hendyk aka Melas, Rifky aka Tole, Robby aka Tenyong, Shandi aka Telik, Panji, Enes adik saya, Esi yang datang jauh-jauh dari Bengkulu via Jakarta (big thanks udah nyempet-nyempetin mendarat di Malang), Kak Tina yang merupakan mbaknya Esi yang ternyata cerewet seperti adeknya (tapi asik kok orangnya, piss mbak) dan yang terakhir saya sendiri.


Jadi begini ceritanya, kita berangkat agak molor dari jadwal karena peralatan yang udah dipesan ternyata kosong, setelah mencari kesana kemari dan kebutuhan mencukupi akhirnya kami baru berangkat pukul 15.00 dengan jumlah 9 orang. Selama perjalanan bisa dibilang cukup lancar walaupun sempat terjebak macet di Gadang dan diguyur hujan mulai Malang Kota sampai Turen.


Sampai Turen kami mencari logistik untuk konsumsi di tujuan nanti. Satu persatu pun belanja, membayar, dan keluar. Tapi kehebohan kembali terjadi karena si Telik ternyata masih di dalam I***mart belanja (ga tau apaan tapi lama banget). Setelah logistik terpenuhi kami berangkat kembali.


Tidak lama kemudian kami memasuki jalan menuju Pantai Sendang Biru. Baru masuk 6km-an tiba-tiba roda kendaraan saya bocor, berhentilah kami dipinggir jalan. Setelah bertanya lokasi tambal ban maka tiga kendaraan berangkat terlebih dahulu, sedangkan Melas, Enes dan saya mencari tambal ban.


Setelah ban beres, kami bertiga kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata kami ditunggu oleh rombongan di Pasar Druju, mereka ternyata berkedok makan malam mengisi perut (ini mah curang pemirsa). Oke, FINE..


Setelah rombongan utuh, si Rifky bilang katanya kurang 8 km (entah dia dapat sumber darimana). Saya pun berkata, "Tenang aja, setelah belokan depan kita ke kanan, lalu kiri, SAMPAI...."


Berangkat kembalilah kita, jalanan malam berbelok-belok kita lahap satu persatu dengan hati-hati. Sempat juga mampir beli nasi, karena ingat dari siang belum makan nasi. Pas mau berangkat Esi nanyain apakah masih jauh, dan saya pun menjawab, "tenang, abis jembatan depan nyampe kok." Untuk memacu semangat emang kita terkadang kudu sedikit bohong demi kebaikan (baca: white lie). Perjalanan pun berlanjut menembus malam, hutan, kelokan tajam yang akhirnya mengantar kita ke Pantai Sendang biru dengan selamat.


Sampai di Pantai Sendang Biru kita langsung menuju parkiran yang ternyata parkiran sendiri juga penuh. Padahal parkir sepeda semalem aja Rp. 10rb, kalo jumlahnya se-bujubuset gitu berapa ya?


Akhirnya barang-barang diturunkan dari sepeda. Kami langsung heading ke Camping Ground yang lokasinya diatas  parkiran. Saya dan Tole mendirikan Tenda 1, Panji dan Melas mendirikan Tenda 2, Telik dan Tenyong mengantarkan ladies-ladies ke kamar mandi (ritual perempuan yang masih misteri buat saya). Setelah dirasa kurang, akhirnya Melas dan Tenyong mendirikan Tenda 3 untuk logistik.


Setelah tenda siap, si Tole bersama Melas dan Tenyong mengeluarkan kompor dan mesting untuk memasak air dan makan malam. Saya dan Panji konser duet maut diliatin mbak Tina yang mendengarkan dengan syahdu sambil ikutan nyanyi pelan-pelan (takut ketahuan suaranya jelek kali ya, piss ya mbak). Enes sama Esi langsung foto-foto n moto-in yang lain (efek kembali kinclong setelah ritual kali ya). Telik, telik mana ya?? eh, ternyata dia lagi telponan sama ga tau siapa, jadi kita simpulkan saja sama pacarnya. =D

Semakin malam, Enes mengambil kartu remi yang akhirnya dimainkan bersama-sama dengan yang lain, sedangkan saya ganti partner konser bersama si Melas. Setelah cukup tengah malam, akhirnya pada tidur semua di tenda tersisa saya, Tole dan Melas yang menikmati taburan bintang, desau angin, suara ombak dan celoteh jangkrik sambil makan mi instan plus nasi bungkusan.


Setelah kenyang, kami bercerita malam dan menyusun rencana esok hari dengan seriuszzz...ZZZ..zZz..


Saya yang ketiduran dibangunkan Tole agar pindah ke dalam Tenda. Saya pun masuk tenda dan tidur diantara Tenyong dan Panji. Night all....


Pagi harinya, saya bangun karena suara Telik yang protes karena tempat sepatunya dibuat tempat sampah oleh yang lain (Sori lik, tadi malem gelap, jadi kami agak khilaf). Waktu saya keluar tenda Telik, Melas, Tole dan Tenyong tidak ada. Saya pun kembali lagi ke Tenda. Setelah Panji bangun saya dan Panji membereskan tenda yang akhirnya dibantu kawan-kawan yang lain plus mbak Tina yang "menyemangati" kami dengan kicauannya.


Setelah tenda diringkas dan dititipkan kantor untuk memperoleh ijin, maka kami bergegas mencari kapal untuk menyebrang. Sambil menunggu kapal, Melas dengan kamera dan gayanya bak Fotografer Profesional mengambil gambar-gambar kami yang masih segar itu.


Akhirnya kami menyebrang dengan perahu nomor 2 dengan biaya Rp. 100rb/perahu untuk maksimal 10 orang. Saat perahu menembus padang lamun saya melihat Lion Fish yang tersesat, karena sangat tidak biasa ada Lion Fish di Padang Lamun saudara-saudara.


Saat akan mendarat di Pulau Sempu, tepatnya Teluk Semut (namanya Teluk Semut karena kalau sore teluk ini dipenuhi semut, hasil ngintip blog orang), kami disambut ikan-ikan kecil yang berlompatan di pinggir karang (mau eksis juga nih ikan). Setelah perahu berhenti kami pun berlompatan ke air. Karena air laut surut, maka perahu tidak berani terlalu menepi, takut kandas. Saat berjalan menuju tepi saya bertemu dengan Puffer Fish yang berdiam di pinggir pantai, mungkin tersesat lagi kali ya.

Kami pun sampai di tepi pantai, Telik, Panji dan Enes mengganti sandalnya dengan sepatu agar lebih Unbound the Wild. Setelah itu kami berdoa dan berjalan memasuki hutan. Pada bagian awal hutan jalanan berupa tanah padat bercampur batu karang tajam, akar-akar pohon dan pohon roboh melintang, jadi perlu ekstra hati-hati selama perjalanan. Suara kicauan burung menambah syahdunya perjalanan kami. Perjalanan pun berlanjut, pada sesi berikutnya jalan menjadi naik, sepertinya kami menaiki bukit. Ditemani kicauan burung dan celoteh satu dengan yang lain kami berjalan menembus hutan dan berpapasan dengan rombongan lain dengan berbagai macam klasifikasi mulai tua, muda, cantik, jelek, gagah, tambun, kurus, putih, hitam, sangar, ingusan, pokoknya lengkap semua species kayaknya ada. Setelah jalan naik, akhirnya tibalah jalan turun, kami sempat beristirahat beberapa kali karena kecapekan. Setelah menuruni bukit, tiba-tiba Telik menjerit," Gilee cyinn, pantainya udah keliatan booo", yang membuat semangat kami kembali meluap. Jalanan pun berganti semakin susah karena kami harus berjalan di pinggir tebing yang dibawahnya sudah "Clearwater" yang jernih (kalau tidak ingat masih bawa tas akomodasi pasti udah langsung nyebur). Setelah berjalan beriringan dan bergantian karena jalanan sempit kami pun sampai di Laguna Pulau Sempu yang menawan.

Setelah mencari spot untuk meletakkan perbekalan, saya langsung mengeluarkan snorkel set yang saya bawa menuju pantai untuk ber-snorkeling ria.


Air jernih dan putihnya pasir pantai semakin membius saya untuk semakin ke bagian yang dalam. Akhirnya saya menemukan karang yang pertama di kedalaman 3 meter, ternyata sudah ada ikan warna-warni yang menanti saya disini. Ikan di sini pun cukup besar dan bergerombol seperti geng motor yang konvoi dengan angkuhnya. Uniknya, pada kedalaman ini kita bisa menjumpai anemon yang tidak saya temui di pesisir Pulau Sempu.


Beberapa teman pun menyusul untuk bermain di air, Panji dan Tenyong bergantian ikut Snorkeling Tour (maklum, karena cuma bawa 2 set aja, jadi harus gantian). Sebagian besar karang disini kondisinya baik, mungkin karena yang berani masuk ke kedalaman ini hanya sedikit orang saja. Selama snorkeling kami menjumpai Puffer Fish, Snapper dan ikan-ikan karang yang berwarna-warni. Di sekitar karang yang membelah air menjadi dua arus bawah cukup kuat, sehingga saya dan Tenyong sempat terbawa beberapa kali.


Pukul 14.00 kami bersiap-siap untuk kembali, Melas bersama tripod dan DSLR-nya mengambil gambar kita membelakangi pantai berulang-ulang dengan berbagai macam edisi termasuk edisi adik-kakak (tinggal menunggu share foto-nya nih). Tolong ya Melas =p


Sebelum pulang kami sempat foto-foto di atas karang yang menghadap Samudera Hindia, serem tapi asik.

Menurut info dari Melas yang merupakan info dari wisatawan lain, tadi paginya terlihat lumba-lumba berlompatan (jadi pengeeen).


Matahari yang semakin terik menyadarkan kami untuk segera pulang. Kami bergegas berjalan menyisir tebing, pada saat ini kak Tina sempat terpeleset, tapi untung saja tidak jatuh dan baik-baik saja.


Kejadian ini sempat membuat kami merinding dan lebih berhati-hati. Perjalanan menanjak berikutnya, bertambah beratnya bawaan plus sampah bekal yang kami bawa pulang membuat kami berkeringat layaknya kuli panggul, padahal udara saat itu sangat sejuk karena sinar matahari tidak dapat menembus lebatnya hutan. Kami sempat beristirahat beberapa kali sambil makan roti, minum dan bercanda ditemani kicauan burung. Perjalanan dilanjutkan setelah badan kembali fit.


Sampai di pesisir Teluk Semut, mbak Tina langsung menghubungi "Kapten" perahu agar menjemput kami. Sambil menunggu kami makan roti dan minum lagi (baru tersadar ternyata perbekalan kita sangat banyak, seperti mau buka toko kelontong saja disini).


Setelah perahu datang, kami pun naik dan menyebrang lagi ke Pantai Sendang Biru. Saya duduk di depan bersama Esi dan Tole.


Sampai di Sendang Biru kami langsung menghampiri warung untuk pesan makan, kopi, es teh, es jeruk, mi goreng dan telor asin (itu perut apa karung ya =D).


Setelah kenyang, kami kembali ke kantor untuk lapor dan mengambil barang-barang yang dititipkan. Setelah lapor kami langsung ke parkiran untuk mengambil kendaraan. Kami pun menata barang diatas kendaraan dan bergegas meninggalkan Sendang Biru yang cantik.


Perjalanan pulang terasa mengasyikkan, karena pemandangan indah yang kemarin tidak terlihat dimalam hari.


Saat ada SPBU, kami berhenti untuk mengisi bahan bakar. Sambil menunggu melas yang "ganti oli", tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang minta antar ke rumahnya di Druju karena tidak kuat menyetir. Kami sempat curiga juga awalnya, takut terjadi sesuatu dan khawatir kemalaman. Akhirnya Telik membonceng ibu-ibu itu menuju rumahnya dan kami beriringan dibelakangnya. Syukurlah tidak terjadi apa-apa sehingga perjalanan dapat kembali dilanjutkan.


Sampai Turen, kami mampir lagi SPBU untuk "ganti oli" aka buang air sambil merencanakan kepulangan masing-masing.


Selama dari Turen sampai P.G. Krebet jalanan ternyata padat, berdebu dan kami berada di belakang "cumi-cumi darat" yang terus menyemburkan gas hitam buangannya. Perjalanan pun berlangsung lambat dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam. Lepas dari P.G. Krebet kami berpisah dengan sang "cumi darat" dan perjalanan kembali normal.


Sampai di pertigaan setelah patung kuda Hamid Rusdi, kami berpisah rombongan. Saya dan Enes langsung ke Singosari via Arjosari, sedangkan rombongan yang dipimpin Melas belok kiri ke arah kota menuju daerah kampus Brawijaya.


Sekian perjalanan kali ini. Terima kasih kepada teman-teman semua yang berupaya sukses dan lancarnya hepi-hepi kita kali ini. I love you guys ^_^!


Sampai jumpa di Ranu Kumbolo tanggal 6 Desember 2012.

Malang, 2012


Published with Blogger-droid v2.0.4